Tragis, Kata-kata ini ‘Bakar’ Amarah Sang Dosen, Nyawa Perawat Intan Melayang di Jalanan

  • Bagikan
Tragis, Kata-kata ini 'Bakar' Amarah Sang Dosen, Nyawa Perawat Intan Melayang di Jalanan
Intan Muliyatin (25).(Facebook)
Tragis, Kata-kata ini ‘Bakar’ Amarah Sang Dosen, Nyawa Perawat Intan Melayang di Jalanan

KEMBARA.ID- Seorang perawat di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) bernama Intan Muliyatin (25) ditemukan tewas mengenaskan.

Gadis cantik itu dihabisi pacarnya AS (31) yang berprofesi sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Mbojo Bima.

Pembunuhan itu ternyata bermotifkan sakit hati pelaku atas perkataan orangtua Intan.

Baca juga:

Nikahi Dua Pacar Sekaligus, Ternyata ini Pekerjaan Duda Asal Buleleng, Miliki Jadwal Tidur

Kisah Sukartayasa, Duda Asal Buleleng Nikahi Dua Pacarnya Sekaligus

Siswa SMK ‘Berjanji’ pada Siswi SMP, Aku Nikahi Kamu Setelah Lulus, Kejadian Fatal pun Terjadi

Kepada Polisi AS mengaku, lamaran dirinya untuk menikahi Intan ditentang oleh orangtua Intan.

Tak hanya menolak lamaran, menurut AS orangtua Intan juga mengucapkan kalimat yang sangat menyinggung dirinya.

“Walaupun malaikat datang (melamar) saya akan tetap tolak.” ucap AS menirukan perkataan orangtua Intan dikutip dari Indozone.id.

Baca juga:

Ilija Spaso Batal Gabung Timnas Indonesia, Alasannya Mengharukan, Memilih Rawat Anak yang Patah Tangan

300 Wanita Jadi Korban Bambang, Motif Awal Ingin Meneliti Swinger atau Tukar Pasangan Intim

AS tak habis pikir dengan ucapan orangtuanya.

Apalagi semasa menjalani pacaran, AS yang menanggung biaya kuliah Intan di Universitas Muslim Makassar.

Niat menghabisi nyawa Intan timbul di pikiran AS.

AS pun menghadang Intan di Jalan Dana Traha Gunung Raja Kelurahan Dara, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima, pada Rabu (5/8/2020).

Keduanya pun terlibat cek cok mulut.

Lalu, AS menikam Intan hingga menghembuskan nafas terakhir di TKP.

Beberapa waktu kemudian, AS pun menyerahkan diri ke Polisi.

AS bakal dijerat dengan Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

“Tersangka sakit hati karena lamarannya ditolak orang tuanya,” ujar Kapolres Bima Kota, AKBP Haryo Tejo Wicaksono.(*)

  • Bagikan