Tiga Bulan Siswi SMP di Buleleng Disetubuhi Empat Kali oleh Keluarga Sendiri

  • Bagikan
Tiga Bulan Siswi SMP di Buleleng Disetubuhi Empat Kali oleh Keluarga Sendiri
Ilustrasi pencabulan ayah terhadap anak kandung. Foto/kumparan.com
KEMBARA.ID, DENPASAR – Siswi SMP berusia 14 tahun di Buleleng Bali, berinisial M, diduga disetubuhi empat kali oleh keluarganya sendiri yang berinisial AD (40).

Selama tiga bulan sejak Desember 2020 hingga Februari 2021, korban M diduga telah dicabuli sebanyak empat kali.

Perbuatan bejat AD baru diketahui setelah korban M mengakui hal itu dihadapan kedua orangtuanya.

Kasus ini pun sudah dilaporkan ke Sat Reskrim Polres Buleleng oleh orangtua korban M berinisial KSM, dengan nomor laporan polisi yakni LP-B/51/V/2021/Bali/RES BLL, tertanggal 12 Mei 2021.

Dugaan pencabulan ini terkuak saat korban M diberi uang dan diminta membeli obat pil oleh terduga AD untuk diminum.

Namun korban tak meminum dan menyimpan pil tersebut di tas.

Orangtua korban akhirnya mengetahui kasus ini berawal dari penemuan obat pil di dalam tas korban.

Pihak keluarga dan kedua orangtua menanyakan ke korban hingga dirinya mengakui kejadian ini, dan akhirnya melapor ke Polres Buleleng.

Terduga pelaku AD merupakan seorang duda yang bekerja di Denpasar. Namun karena pandemi Covid-19, ia pulang ke Buleleng.

AD memiliki pacar yang biasanya diantar oleh korban M, saat bertemu AD.

Karena sering bertemu, AD akhirnya suka terhadap korban M.

Ia pun akhirnya berhasil merayu M dan diduga melakukan persetubuhan sebanyak empat kali.

Kasubag Humas Polres Buleleng Iptu Gede Sumarjaya, membenarkan laporan tersebut.

Unit PPA Polres Buleleng tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Menurut Iptu Sumarjaya, pihak terlapor atau terduga pelaku AD belum dipanggil untuk diminta keterangan.

Sementara korban M sudah dilakukan visum. Unit PPA terus mengumpulkan bukti-bukti kasus dugaan pencabulan anak dibawah umur ini.

“Terlapor belum dipanggil. Saksi baru ada dua orang, yakni orangtua korban sebagai pelapor dan korban yang sudah dimintai keterangan.

Kalau bukti sudah cukup, maka dilakukan upaya pemanggilan atau upaya paksa lain terhadap terlapor,” tegas Iptu Sumarjaya dilansir kembara.id dari Nusa Bali, Senin 24 Mei 2021.(*)

  • Bagikan