Calon Magang Asal Flores Timur Mengadu ke Polresta Denpasar, Terlilit Utang Puluhan Juta, Minta Tanggung Jawab Pemda, LPK Darma dan ITB STIKOM Bali

  • Bagikan
Calon Magang Asal Flores Timur Mengadu ke Polresta Denpasar, Terlilit Utang Puluhan Juta, Minta Tanggung Jawab Pemda, LPK Darma dan ITB STIKOM Bali
Peserta calon magang program studi sambil bekerja di Taiwan dan beberapa negara lainnya, saat mengadu ke Polresta Denpasar, Selasa (18/8).
KEMBARA.ID,DENPASAR-Sebanyak empat anak asal Kabupaten Flores Timur, Provinsi NTT mengadu ke Polresta Denpasar, Selasa (18/8).

Anak-anak yang baru tamat di berbagai SMA di Flores Timur ini mengadukan nasibnya ke Polresta Denpasar yakni Laurensius Diaz Riberu, Aloysius Deni Carvallo, Hermanus Woka Hera, dan Servasius Yubileum Bili.

Mereka sudah 2 tahun tanpa kejelasan status dalam program studi dan magang ke Taiwan.

Hingga kini mereka belum bisa diberangkatkan ke berbagai negara tujuan seperti Taiwan, Jepang dan Turki mengikuti program belajar dan magang tersebut.

Tak hanya itu, mereka juga bakal terlilit utang puluhan juta rupiah di BRI Larantuka dan Bank Fajar Bali karena telah meminjam dana untuk kebutuhan proses keberangkatan.

Untuk itu, mereka mengadu ke polisi agar pihak perekrut dan semua pihak terkait seperti Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Darma, ITB STIKOM Bali, dan Pemerintah Flores Timur bertanggung jawab atas nasib mereka.

Saat ditemui di Mapolresta Denpasar, salah satu korban Laurensius Diaz Riberu mengatakan, ia dan teman-temannya mengaku sudah direkrut dalam program ini sejak tahun 2018.

“Sesungguhnya, totalnya kami semua berjumlah 51 orang, dimana direkrut dua gelombang. Dari jumlah itu, ada yang sudah berangkat, baik ke Taiwan, maupun ke Jepang.

Namun sebenarnya banyak yang tidak jadi berangkat.

Karena menunggu dalam ketidakpastian, yang tidak jadi berangkat mulai pelan-pelan pulang ke kampung halaman.

Baca juga:

Update Covid-19 Bali Selasa 18 Agustus 2020: Tambahan Satu Orang Meninggal Dunia

VIDEO: Ibunda Terobos Lampu Merah, Dua Anaknya ‘Disambar’ Truk hingga Meninggal

Jumlah yang tidak jadi berangkat mencapai 21 orang. Awal tahun 2019, sudah pulang 5 orang tanpa hasil.

Kemudian awal tahun 2020, ada 7 teman lagi yang pulang tanpa hasil dan seterusnya.

Hingga saat ini tinggal kami 9 orang yang bertahan dan belum ada kejelasan kapan berangkat. Tapi yang bikin kami jadi marah, kami yang disini saja belum berangkat, sudah ada rekrutan baru lagi. Ini menjadi tanda tanya,” jelas Riberu.

  • Bagikan